Career and Study

Sociopreneurship – Berbuat Kebaikan Sembari Cari Untung

shutterstock_163737929

Acara “Dream Big Make an Impact” yang diawaki Andy Noya (“Kick Andy”) di Metro TV banyak menampilkan anak muda inspiratif dengan kegiatan yang tidak biasa. Mereka menjalankan bisnis, namun sekaligus membawa perubahan positip bagi masyarakat atau lingkungan. Mereka sering disebut Wirausaha Sosial atau Social Entrepreneur.

Social entrepreneur adalah pebisnis yang dalam menjalankan bisnisnya selalu berusaha memberikan kontribusi bagi masyarakat yang terkait dengan bisnis mereka. Ini tidak sama dengan, misalnya, Pertamina memberi sumbangan kepada masyarakat di desa atau memberi pelatihan UMKM bagi ibu-ibu di daerah tertentu. Mengapa? Sebab yang dilakukan Pertamina ini tidak ada kaitan dengan bisnis utamanya, yakni minyak.

Dalam buku “Dream Big Make an Impact,” kita bisa belajar banyak dari para pelaku kewirausahaan sosial di berbagai bidang. Salah satu sosok yang diceritakan adalah Pieter Tan. Bisnis kopi Arabika Wamena nya mengangkat kesejahteraan para petani kopi di pedalaman Papua yang semula menganggap tanaman kopi tidak ada nilainya.

Anak Papua Juragan Kopi

Pieter Tan lahir di Jayapura 37 tahun lalu. Setelah lulus kuliah, ia kembali ke kampung halamannya untuk membantu bisnis kopi orang tuanya. Waktu itu, usaha ayah Pieter adalah membawa biji kopi dari Lampung dan Jawa untuk dijual ke pasar kelas menengah di Papua. Padahal di Papua banyak kebun kopi.

Di Papua, khususnya di Wamena, banyak kebun kopi terlantar sebab petani menganggap harga kopi terlalu rendah. Apalagi buah kopi tidak bisa langsung dijual ke pasar. Kopi harus dikeringkan dulu. Ini memakan waktu satu bulan. Pieter pun pun mencari cara agar petani di sana mau serius menanam kopi.

Setelah meneliti kebiasaan dan kehidupan petani di Wamena, Pieter berkesimpulan bahwa kopi harus dihargai tinggi agar petani bisa menukarnya dengan gula. Ia memutuskan membeli biji kopi dari petani dengan harga 8 kali lipat dari yang biasa diterima petani saat itu. Petani pun mulai tergerak menanam dan merawat kopi. Ia juga mengajarkan bagaimana menghasilkan biji kopi berkualitas.

Prinsip Social Entrepreneurship nya terasa kental. Selain memberikan mesin pengupas kopi gratis untuk petani, Pieter mendirikan sekolah barista bagi anak muda Papua yang serius mau jadi peracik kopi di kafe atau hotel.

Hebatnya, sekolah barista ini gratis. Padahal peralatan yang mesti disediakan mahal. “Saya hanya mau mengajar anak-anak yang memang serius mau belajar kopi,” kata Pieter. Pesertanya diseleksi benar. Bagi yang sering ngopi di kafe pasti tidak asing dengan mesin espresso merek La Marsocco, Nuova Simonelli, atau Rancilio. Coba check harganya di google. Yang mini saja harganya di atas 50 juta rupiah.

Setelah beberapa tahun bergulat dengan kopi rakyat, kini sekitar 500 petani bekerja sama dengannya dan menghasilkan 40 ton (40.000 kg) kopi per tahun. Tentu Pieter sudah bisa menikmati keuntungan lumayan dari bisnisnya ini. Tapi selain Pieter, ada ratusan keluarga petani kopi yang kini hidup layak dan punya harapan akan masa depan yang lebih baik.

Kini makin banyak pemuda Indonesia seperti Pieter Tan. Apa yang membedakan mereka dari anak muda pada umumnya? Dapatkah pola pikir seperti ini dipelajari dan dibentuk?

Pergeseran cara berpikir

Kewirausahaan Sosial dibangun dari sikap baru. Misalnya ketika ada masalah sampah di depan sekolah, kita berharap orang lain yang akan mengatasinya. Wirausahawan sosial tidak demikian. Mereka percaya bahwa mengubah keadaan jadi lebih baik itu tanggung jawab saya/kita. Mereka percaya setiap orang mampu membuat perubahan. Ini sikap pertama.

Yang kedua, umumnya untuk menghasilkan solusi diperlukan kepengurusan yang terstruktur rapi dengan pembagian tugas yang jelas seperti di perusahaan atau pemerintahan. Sebaliknya, wirausahawan sosial percaya tim bisa beranggotakan siapa saja dengan pembagian peran yang fleksibel, misalnya dengan melibatkan anak sekolah atau mahasiswa sebagai relawan.

Ketiga, wirausahawan sosial juga percaya bahwa pekerjaan besar tidak harus dirancang oleh pimpinan dan dilaksanakan oleh bawahan. Solusi bisa dihasilkan lewat Cocreation (penciptaan gagasan secara bersama-sama lewat komunitas). Salah satu contoh hasil Cocreation adalah desain mobil Rally Fighter produksi Local Motors. Begitu ‘keren’ desain dan kemampuannya sampai mobil ini dipakai  dalam adegan kejar-kejaran di film “Transformers – Age of Extinction”.

Laba Finansial dan Dampak Sosial

Meskipun tujuan bisnis adalah menghasilkan keuntungan finansial, pengusaha bisa mengintegrasikan bisnisnya dengan nilai sosial, seperti mendorong kehidupan masyarakat untuk menjadi lebih baik atau turut berpartisipasi menjaga lingkungan sehingga tidak semakin rusak. Dengan model bisnis yang tepat, lewat sosialisasi yang menarik dan inspiratif, maka keuntungan dan karya sosial bisa berjalan seiring.

Social entrepreneur yang sukses antara lain adalah Salman Khan, pendiri Khan Academy, situs gratis berisikan aneka pelajaran gratis untuk anak sekolah sedunia. Ada lagi Nikhil Arora dan Alejandro Veles, pendiri Back to the Roots, sebuah usaha pertanian kota (urban farming) yang mengajak orang kota bercocok tanam dan merasakan sendiri bagaimana rasanya makan dari tumbuhan yang ditanam di rumah.

Di dunia medis ada Victoria Hale. Ia mundur dari jabatan bergengsi di perusahaan farmasi terkemuka untuk mendirikan pabrik obat murah bagi masyarakat di negara-negara miskin. Salah satu produknya adalah obat murah untuk Demam Hitam yang sangat mematikan dan saat itu hanya bisa diobati dengan antibiotik Amphotericin B yang sangat mahal.

Di bidang pendidikan ada Taddy Blacher yang sukses mendirikan universitas untuk masyarakat miskin di Afrika Selatan. Saat itu biaya kuliah terlalu mahal bagi anak-anak kulit hitam yang sebelumnya dianggap sebagai budak. Blacher membuktikan bahwa pendidikan tidak selalu harus bermodal besar.

Mereka yang disebut di atas adalah orang-orang yang bekerja keras untuk membantu orang lain agar hidup lebih baik. Tetapi karena model bisnisnya unik, mereka tetap mendapatkan uang. Bisnis memang harus untung. Tapi bisnis seharusnya tidak melulu cari untung. Berminat?

Sumber menarik lain:

Bornstein, David, and Davies, Susan: “Social Entrepreneurship – What Everyone Needs to Know”, Oxford University Press, 2010

Ads 2-04

About the author

Budi Prasetyo

Budi Prasetyo

Budi Prast adalah Founder jurusanku.com. Selain aktif melakukan penelitian di bidang pendidikan, bersama Ina Liem ia menulis “7 Jurusan Bergaji Besar”, "Kreatif Memilih Jurusan", dan "Majors for the Future". Minat utamanya meliputi pendidikan, data analytics, dan design thinking. Ia juga salah seorang Kontributor Kompas KLASS untuk rubrik #baca.

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*