Career and Study

Masa Depan Pertanian Ada di Tangan Petani Modern

shutterstock_220340584

Masih adakah anak muda Indonesia yang bercita-cita menjadi petani? Makin banyak lahan pertanian dijual. Anak-anak petani ingin ke kota mencari kerja. Alhasil, lahan pertanian menyusut, hasil pertanian pun merosot. Indonesia makin sering mengimpor bahan makanan, termasuk beras. Mengapa bisa terjadi?

Salah satu alasannya adalah makin sulitnya petani pemilik lahan mendapatkan buruh tani. Di saat tanaman padi harus dibersihkan dari gulma (rumput liar), sulit sekali petani mendapatkan tenaga kerja penggarap. Begitu juga ketika musim tanam dan panen.

Penyebab lainnya adalah ketergantungan mereka kepada benih impor. Harga benih yang tidak murah membuat petani menanggung risiko besar, bahkan rugi ketika harga panenan jatuh akibat pasar diguyur hasil pertanian impor.

Bagi petani padi, keberadaan mesin pengering dan penggiling padi ikut menentukan seberapa besar uang yang diperoleh mereka. Gabah yang tidak kering (akibat cuaca mendung atau hujan) dihargai murah. Jika dijemur, butuh waktu lama sehingga pendapatan mereka tertunda.

Peluang Sukses & Syaratnya

Pertanyaannya sekarang, masihkah industri pertanian mampu memberikan masa depan bagi generasi muda? Jawabnya tentu saja masih. Syaratnya, pertanian harus meninggalkan cara tradisional dan mulai mengadopsi ilmu dan teknologi modern.

Petani yang mampu menyiapkan bibit sendiri tentu akan lepas dari cengkeraman produsen atau importir benih. Selain untuk keperluan sendiri, benih miliknya bisa dijual kepada petani lain. Tetapi membuat benih tidak mudah. Dibutuhkan ilmu dan penelitian.

Ketergantungan kepada tenaga buruh tani juga bisa diatasi apabila petani menerapkan mekanisasi alias memanfaatkan peralatan dan mesin modern. Selain traktor, petani dengan akses pada mesin pengering dan penggilingan padi tentu akan meraup laba jauh lebih besar.

Yang tak kalah pentingnya adalah kemampuan memanfaatkan teknologi digital. Lewat website dan media sosial petani modern bisa menjual hasilnya langsung kepada distributor atau pengecer, tanpa lewat tengkulak. Petani mendapat nilai jual lebih tinggi dan pembeli diuntungkan karena mendapat harga lebih murah.

Inovasi Berbasis Ilmu & Teknologi

Salah satu model pertanian modern adalah Vertical Farming di Singapura. Dengan lahan terbatas, tanaman disusun setinggi 9 meter. Sistem hidroponik ini selain menghasilkan sayuran organik juga hemat air dan listrik. Hasilnya pun fantastis. Ini hanya bisa terlaksana karena peran ilmu dan teknologi.

Dengan makin maraknya kedai kopi (coffee shop) di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, konsumsi kopi meningkat pesat tanpa diikuti dengan produksi biji kopi yang mencukupi. Dunia diperkirakan akan mengalami defisit kopi. Masalah ini dibaca beberapa petani modern kita sebagai peluang.

Kini makin banyak anak muda berpendidikan tinggi kembali ke desa untuk berkebun kopi. Pengetahuan tentang jenis kopi, hama, benih, sampai kualitas, harga dan cara menjualnya mendorong mereka serius menggarap lahan kosong di pedalaman.

Hasilnya, banyak yang sukses. Ada yang menjual biji kopi hasil kebunnya langsung ke kedai kopi di kota-kota besar. Ada yang mengolah biji kopinya secara modern menjadi bubuk kopi kelas premium untuk ekspor. Ada pula yang mendirikan kafe dengan kopi pilihan dari kebun sendiri.

Kuasai Ilmunya

Komoditas pertanian bukan hanya padi dan kopi. Indonesia kaya akan keanekaragaman hayatinya. Hasil pertanian dan perkebunan yang peluangnya menjanjikan nyaris tak terbatas. Sayur, buah, tanaman bumbu masakan serta rempah-rempah sangat melimpah.

Lampung Black Pepper dan Munthok White Pepper adalah merek lada Indonesia yang sudah dikenal dunia. “Hasil dari lada masih bisa ditingkatkan jika kita mampu mengatasi serangan penyakitnya,” kata peneliti Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Kementerian Pertanian (Balitro Kementan), Nurliani Bermawie (Kompas, Senin 27/2).

Sebagai perbandingan, pada 2015, luas area tanaman lada di Indonesia yang mencapai 116.000 hektar hanya bisa memproduksi 77.000 ton lada. Adapun di Vietnam, lahan 57.000 hektar bisa memproduksi 130.000 ton lada.

Jelas, untuk merebut peluang berlimpah di industri pertanian, ilmu dan teknologi modern mutlak diperlukan. Mereka yang menguasai keduanya akan siap menjadi petani modern yang sukses. Jurusan-jurusan terkait pertanian sudah selayaknya dilirik sebelum menjatuhkan pilihan.

 

Ads 2-04

About the author

Budi Prasetyo

Budi Prasetyo

Budi Prast adalah Founder jurusanku.com. Selain aktif melakukan penelitian di bidang pendidikan, bersama Ina Liem ia menulis “7 Jurusan Bergaji Besar”, "Kreatif Memilih Jurusan", dan "Majors for the Future". Minat utamanya meliputi pendidikan, data analytics, dan design thinking. Ia juga salah seorang Kontributor Kompas KLASS untuk rubrik #baca.

2 Comments

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*