Success Tips

Mengapa Beberapa Orang Sangat Inovatif dan yang Lain Tidak?

shutterstock_198556997

Kamu termasuk orang kreatif? Banyak orang kreatif di sekitar kita. Artinya, mereka mampu menghasilkan banyak ide, mulai dari yang sederhana sampai yang terdengar aneh.

Tapi kalau ditanya, apakah kamu termasuk pribadi inovatif? Jawabnya bisa berbeda. Orang kreatif tidak selalu inovatif. Jadi apa bedanya kreatif dan inovatif?

Menurut businessdictionary.com, inovasi adalah proses menerjemahkan sebuah ide menjadi produk atau layanan yang lebih baik atau sama sekali baru yang lebih bernilai atau laku dijual. Hasil inovasi harus mampu menjawab kebutuhan tertentu. Pendek kata, inovasi harus memberi dampak positip bagi masyarakat atau lingkungan.

Jadi jelas, orang kreatif dengan banyak ide belum bisa disebut inovatif jika dari tangannya belum muncul hal seperti disebut di atas. Dengan begitu banyaknya persoalan yang dihadapi manusia, dunia makin haus akan inovasi. Itu sebabnya inovator umumnya diganjar penghasilan besar. Problemnya, mengapa beberapa orang sangat inovatif sedangkan sisanya tidak?

Play, Passion, Purpose

Tony Wagner, seorang pengamat pendidikan, meneliti beberapa sosok inovatif di Amerika dan melacaknya sampai ke masa kecil mereka. Ternyata pendidikan keluarga sangat berpengaruh pada kemampuan inovasi mereka di saat dewasa.

Dari pengamatannya ini, Wagner menemukan ada beberapa kesamaan di antara anak-anak muda inovatif tersebut. Unsur-unsur pembentuk sikap inovatif ini diuraikan dengan jelas dan terperinci dalam bukunya “Creating Innovators – The Making of Young People Who Will Change the World”.

Pertama, semasa kecil mereka umumnya banyak bermain di area terbuka. Wagner menyebutnya unstructured activities (kegiatan bebas). Disini anak belajar bekerja sama, mencoba berbagai hal, belajar mengukur risiko, dan menemukan hal-hal baru yang tidak diperoleh di dalam rumah atau ruang kelas.

Dari kenyangnya bermain dan bereksperimen, mereka lalu menemukan apa yang sungguh menjadi daya tarik bagi mereka masing-masing. Mereka sudah menemukan passion sejak dini. Ini yang membedakannya dengan kebanyakan anak lain. Banyak orang yang sudah tua bahkan belum menemukan passionnya.

Karena sering berkutat dengan passionnya, mereka menemukan purpose, yakni tujuan untuk dicapai. Kirk Phelps, salah satu anak muda yang ditemui Wagner, mengatakan bahwa sejak masih remaja ia sudah tahu ingin merancang dan membuat benda yang berguna bagi orang lain. Phelps adalah Chief Designer untuk produk iPhone pertama.

Ada beberapa hal lain yang sangat berperan membentuk pribadi inovatif. Namun karena terbatasnya ruang, kita akan membahasnya di lain waktu.

Jadi apa yang membantu seseorang jadi inovatif? Wagner meringkasnya dengan tiga unsur, yakni Play, Passion, Purpose. Terlibat di berbagai macam kegiatan, punya cukup waktu untuk aktivitas bebas, berani mencoba hal-hal yang menarik sambil belajar mengukur risikonya adalah langkah awal menuju pribadi inovatif.

Volunteer Job

Di luar negeri, kegiatan menjadi relawan sangat dihargai. Bahkan banyak perusahaan merekrut karyawan yang punya catatan aktivitas sebagai relawan. Mereka percaya seseorang lebih bisa diandalkan apabila ia mampu memberi dampak positip bagi orang lain.

Hebatnya, justru dari aktivitas relawan inilah banyak tercetus ide kreatif yang melahirkan inovasi. Berangkat dari kepedulian, seseorang menemukan masalah. Karena tergerak untuk mencari solusinya, mereka menemukan ide cerdas. Sejatinya, menjadi relawan itu bukan hanya menolong orang lain. Diri kita pun terbantu karena pengalaman ini meningkatkan daya saing kita di masa depan. Ini sering luput dari pemikiran umum.

Memilih Jurusan Kuliah

Banyak pelajar sulit menentukan pilihan jurusan sebab tidak paham minatnya. Tanpa memahami minat, memilih jurusan bisa sangat membingungkan. Banyaknya kegiatan akademik di sekolah membuat anak kekurangan waktu untuk bermain dan menjelajah dunia di luar sekolah.

Mengejar prestasi akademik itu baik. Mengambil les tambahan di sore hari kadang kala memang diperlukan. Tapi ini hanya meningkatkan skill dan pengetahuan, khususnya untuk menghadapi ujian akhir.

Menariknya, di dunia kerja, ketika kita sudah lupa semua  pelajaran sekolah, yang tersisa tinggal softskills dan daya inovasi. Jika dua hal ini tidak sempat dikembangkan di usia muda, seseorang akan menghadapi kesulitan dalam hidup, khususnya di abad 21 di mana inovasi adalah sebuah kebutuhan.

Jadi, kalau kita menyediakan waktu untuk belajar, kita pun harus menyisihkan waktu  untuk bermain. Buat apa pintar di sekolah kalau tidak inovatif? Buat apa punya banyak pengetahuan kalau tidak mampu menghadirkan solusi?

Ads 2-04

About the author

Budi Prasetyo

Budi Prasetyo

Budi Prast adalah Founder jurusanku.com. Selain aktif melakukan penelitian di bidang pendidikan, bersama Ina Liem ia menulis “7 Jurusan Bergaji Besar”, "Kreatif Memilih Jurusan", dan "Majors for the Future". Minat utamanya meliputi pendidikan, data analytics, dan design thinking. Ia juga salah seorang Kontributor Kompas KLASS untuk rubrik #baca.

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*