Kompas Articles

Berpijak pada Linimasa

(foto: UTS, Sydney)
(foto: UTS, Sydney)
(Ini adalah bagian kedua dari artikel tulisan Ina Liem di Kompas KLASS, Jumat, 23 Januari 2015, tentang jurusan Creative Intelligence and Innovation. Bagian pertama bisa dibaca disini.)

Inovasi sering kali terkait dengan perjalanan waktu.

Pada masanya, Buckminster Fuller merupakan arsitek yang mengembangkan banyak ide, desain, dan penemuan, khususnya di bidang rumah tinggal dan transportasi murah dan praktis. Mahasiswa diarahkan untuk memahami pola-pola yang diadopsi para innovation leaders semacam Buckminster, lalu menerapkannya pada masalah besar yang dihadapi sekarang.

Untuk itu, setelah semester ketiga, ada mata kuliah Past, Present, Future of Innovation. Mahasiswa diajak mengenal penemuan dan inovasi yang telah dihasilkan di berbagai industri sesuai jurusan masing-masing, lalu menariknya ke masa kini. Sebagai contoh, di jurusan Arsitektur, mahasiswa diberi proyek “What would Buckminster Fuller do now?” (Apa yang akan dilakukan Buckminster di masa sekarang?).

Dengan cara ini, mahasiswa diharapkan mampu melihat bagaimana situasi sosial dan budaya pada masa lalu mempengaruhi berbagai inovasi saat itu. Dalam kerangka berpikir ini, mereka didorong memahami situasi masa kini serta inovasi yang dilahirkannya agar mampu berspekulasi dengan kemungkinan inovasi untuk masa mendatang.

Melalui teknik scenario building, forecasting, backcasting, dan technology roadmapping, mereka akan melihat bagaimana rentetan sejarah dari berbagai inovasi dibentangkan untuk menjajaki peluang pada masa depan.

Semua diminta mengamati ide tertentu serta praktik-praktik kreatifnya untuk membuat lompatan konsep dan kreativitas yang akan berguna bagi disiplin ilmu mereka sendiri. Oleh karena itu, manfaatnya juga dirasakan mahasiswa program studi lain seperti Science, Information Technology, Engineering, Journalism, Law, bahkan Midwifery. 

Bertahan tanpa inovasi?

Dulu, banyak perusahaan bisa survive meski minim inovasi. Tapi, kini, mereka tidak hanya butuh produk berkualitas, tetapi juga proses dan manajemen yang semakin efisien diperlukan agar biaya berkurang dan produktivitas meningkat.

UTS terletak di jantung kota Sydney yang menyediakan banyak problema riil untuk dicarikan solusinya (foto: Anna Zhu)
UTS terletak di jantung kota Sydney yang menyediakan banyak problema riil untuk dicarikan solusinya (foto: Anna Zhu)

Konsumen pun ikut mendorong kebutuhan akan inovasi. Mereka ingin dimanja dengan layanan yang makin sempurna. Karena lebih cerdas dan punya banyak pilihan, konsumen tidak mau produk “biasa” karena selalu ada alternatif lain.

Akibatnya, inovasi jadi kebutuhan mutlak untuk membedakan produk. Pilihannya, kalau kalah dalam harga, sebuah produk harus lebih menonjol dibanding produk lain. Untuk beberapa produk atau layanan, inovasi juga berarti upaya menjajaki peluang-peluang yang belum tergali.

Pada uraian project (brief) dari Google pada musim panas lalu, misalnya, mahasiswa mendapat informasi bahwa tak lama lagi 200 juta orang akan mengakses internet untuk pertama kalinya. Para mahasiswa diminta memprediksi bagaimana kira-kira bentuk pengalaman pertama dan apa yang perlu dilakukan Google agar bisa membentuk pengalaman baru tersebut.

Semakin tinggi semester, semakin menantang pula tugas-tugas yang diberikan. Sebut saja mata kuliah Leading Innovation. Ini mata kuliah menarik, mahasiswa diberi project untuk menjadi pemimpin inovasi di bidang studi utamanya masing-masing.

Inovasi dan cara-cara mewujudkannya harus diungkap secara gamblang. Hasil project-nya dipamerkan dan dinilai oleh juri. Pemahaman memadai akan proses inovasi ini akan membuat mahasiswa cekatan merespons aneka tantangan besar dengan cara yang kompetitif.

Mengubah pola pikir

Banyak perusahaan terkenal dipimpin oleh sosok kreatif. Namun, para pemimpin semacam ini, selain sibuk, belum tentu punya kemampuan mengajar. Tidak semua orang kreatif bisa mewariskan kemampuannya kepada orang lain. Inilah yang mendorong perusahaan sering mengundang para “guru inovasi” menularkan mentalitas dan strategi inovatif kepada para staf.

Solusi kreatif dan inovatif seringkali dihasilkan dari kombinasi sudut pandang yang multidipliner (foto: Anna Zhu)
Solusi kreatif dan inovatif seringkali dihasilkan dari kombinasi sudut pandang yang multidipliner (foto: Anna Zhu)

Seperti diakui Yoris Sebastian, pemilik perusahaan konsultan kreatif OMG (Oh My Goodness), masalah utama para eksekutif adalah terjebak rutinitas dan takut salah. Penulis buku Creative Junkies ini menyebut fenomena ini wajar. Waktu sekolah, kita harus salah 0 agar dapat nilai 100. Mindset ini terbawa ke tempat kerja. Kita berusaha sebaik mungkin agar tidak salah. Padahal, untuk membuahkan inovasi, sangat mungkin kita salah atau bahkan gagal.

Patut diamini anak-anak pada dasarnya terlahir kreatif, tetapi pakar pendidikan Ken Robinson di acara bergengsi TED Talk malah mengatakan, “Pendidikan sekolah justru membunuh kreativitas.” Akibatnya, ketika dewasa, kita butuh pendidikan khusus untuk mengembalikan kreativitas anak-anak.

Kini, pendidikan khusus itu telah hadir di UTS, Australia, yang tidak hanya memancing kreativitas, tetapi juga memberi peta jalan agar ide kreatif bisa diwujudkan menjadi solusi yang terukur.

Sayangnya, ada 1 jurusan yang tidak terdapat di antara 18 program studi di atas, yaitu jurusan Pendidikan Guru, yang justru diharapkan dapat mencetak lebih banyak individu kreatif dan inovatif. Semoga, dengan kekosongan ini, ada universitas di Indonesia yang dapat mengadaptasi mata kuliah penunjang kreativitas dan inovasi semacam BCII untuk jurusan Pendidikan. Amin.

Baca artikel sebelumnya:

Melahirkan Para Inovator Berorientasi Industri

Ina Liem

Author and CEO Jurusanku

@InaLiem

@kompasklass #edukasi

Ads 2-04

About the author

Ina Liem

Ina Liem

Ina Liem sudah belasan tahun berkecimpung di dunia pendidikan, terutama pendidikan di luar negeri. Ia telah memberi konsultasi, seminar, dan presentasi di hadapan puluhan ribu pelajar dan orang tua murid di banyak kota dan di beberapa negara tetangga. Selain menjadi Kontributor rubrik EDUKASI di KOMPAS KLASS, Ina adalah penulis (author), pembicara (public speaker), dan Certified Career Direct Consultant.

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*