Success Tips

Prospek Cerah Dunia Pertanian Masa Depan lewat Precision Agriculture

shutterstock_149791082

Dua puluh tahun lagi, modal utama meraih sukses di industri pertanian adalah data dan software.

“If we keep doing farming the old-fashioned way, two billion more people will go hungry by the year 2050.” Benar, pertanian tidak bisa dijalankan dengan cara tradisional terus menerus kalau kita harus menghidupi penduduk dunia yang terus bertambah. Harus ada terobosan baru.

Masalahnya, pertanian itu rumit. Berbagai masalah menghantui setiap petani. Apa yang sebaiknya ditanam, dimana, dan kapan? Seberapa banyak air yang diperlukan? Berapa banyak pupuknya, bagaimana mengatasi penyakitnya, berapa banyak tenaga yang diperlukan?

Kebutuhan tiap sawah berlainan, bahkan di ladang yang sama pun kebutuhannya berbeda antara petak yang satu dengan yang lain. Kebutuhan akan pupuk dan air juga berubah hari demi hari, atau bahkan terkadang jam demi jam. Ada ribuan unsur yang kait-mengait. Sangat rumit.

Precision Agriculture – Pertanian Berbasis Data

Di negara seperti AS dan New Zealand, pertanian sedang berubah menuju industri besar yang sepenuhnya memakai teknologi canggih. Dengan jumlah tenaga kerja minim, mereka mengembangkan teknologi yang mampu menggarap lahan luas tanpa melewatkan setiap jengkal tanah dengan ketelitian luar biasa. Ini yang disebut dengan Precision Agriculture.

JOHN DEERE, raksasa penghasil traktor yang berdiri sejak 1837, membeli sebuah startup bernama Blue River Technology seharga $305 juta (sekitar 4 triliun rupiah dengan kurs hari ini). Blue River membuat robot yang mampu membedakan mana tumbuhan yang tidak dikehendaki, lalu menyemprotkan herbisida pembunuh persis pada sasaran yang dimaksud.

Umumnya pestisida dan bahan kimiawi ditebar atau disemprotkan ke berbagai arah di ladang. Jumlahnya dilebihkan sebab petani menganggap itu lebih baik daripada kekurangan. Namun selain boros, tanaman yang sehat pun ikut terkena dampaknya.

Robot Cerdas Blue River

Robot dengan teknologi dari Blue River membantu traktor ‘melihat’ dan ‘memahami’ tanaman garapannya. Caranya, robot dipasang pada traktor seperti layaknya alat penyemprot hama lain. Bedanya, kamera-kameranya yang terhubung dengan software pintar bisa membedakan mana tumbuhan yang baik dan mana yang mesti dibuang.

Ketika dipakai di kebun selada, sasaran robot ini adalah semak serta tanaman selada yang terlalu kecil atau tumbuhnya tumpang tindih. Semburan herbisidanya menuju sasaran dengan ketepatan beberapa sentimeter persegi. Teknik ini menghemat herbisida sampai 90%.

Drone Pertanian & Sensor Tanah

Teknologi lainnya adalah Agricultural drones dan Precision Hawks Data Mapper. Drone memantau kondisi kesehatan tanaman dari atas area yang sangat luas. Dari data terhimpun, petani tahu bagian mana kelebihan atau kekurangan nitrogen, mana tanaman yang sehat dan mana yang sakit dan perlu diberi perlakuan khusus. Sistem ini juga mampu memberi peringatan dini akan hadirnya serangga perusak atau masalah lain yang bisa mengancam kehidupan tanaman.

precisionhawk_soil_evaluation
Sebuah peta ladang pertanian yang dihasilkan drone dan software pemetaan data PrecisionHawks’ (foto https://techcrunch.com)

Untuk membantu memahami karakter tanah, banyaknya sinar matahari, serta kondisi cuaca terus menerus, mereka menancapkan banyak sensor di tanah. Petani jadi tahu berapa banyak pupuk yang diperlukan di satu petak dan berapa di petak yang lain. Selain hemat, cara ini mencegah kerusakan lingkungan sebab sisa nitrogen dari pupuk yang tidak terserap tumbuhan bisa mencemari air tanah dan merugikan habitat ikan atau mahluk hidup lain.

Traktor tanpa supir sudah banyak diproduksi. Penggunaannya pun tidak butuh perizinan rumit. Lebih dari 200.000 self-driving tractors buatan JOHN DEERE sudah dioperasikan di ladang-ladang gandum dan jagung di sana. Semuanya terhubung dengan sistem terpadu bersama drone dan sensor tersebut di atas.

Petani masa depan harus melek data

Semua contoh teknologi ini bekerja efektif karena melibatkan pengolahan data secara cermat. Dengan teknologi canggih berbasis data analytics, penghematan sekecil apapun punya nilai sangat besar jika kita bicara di tingkat nasional. Semua pihak tentu akan menikmati hasil lebih baik, terutama si petani.

Bayangkan, dengan data analytics, petani bisa menemukan jenis benih yang paling sesuai untuk ladangnya. Bahkan dengan benih tersebut, panen tahun ini bisa diprediksi lebih akurat dengan hasil lebih baik.

Negeri kita punya lahan sangat luas namun masih banyak yang belum digarap dengan maksimal. Iklimnya cukup bersahabat, namun petani penggarapnya makin sedikit. Dengan keahlian di bidang teknologi baru, banyak persoalan di lahan yang sangat luas bisa ditangani beberapa tenaga kerja saja. Syaratnya, harus ada kemauan untuk terjun ke dunia pertanian.

Siapkan Mindsetmu

Apakah kita mampu menjadikan Indonesia negeri agraris yang makmur dari hasil pertanian? Tentu, namun pertama- tama kita perlu anak muda yang mau terjun ke industri ini. Syaratnya, buang anggapan lama bahwa pertanian selalu berkonotasi kemiskinan, keterbelakanan dan kehidupan serba sulit.

Petani dengan teknologi modern mampu mengatasi berbagai persoalan di ladang dengan cepat. Inti dari pertanian abad 21 adalah pengolahan data. Faktor penentu utamanya adalah kemampuan menghimpun data dan mengolahnya.

Orang seperti apa yang dibutuhkan? Dual knowledge (pengetahuan ganda) akan sangat berguna. Caranya, masuk dan pelajari ranah ilmu lain yang terkait. Contohnya sarjana pertanian tapi mau belajar data analytics dan coding (pemrograman), atau sarjana matematika atau ilmu komputer tapi sangat berminat pada persoalan industri pangan, khususnya di hulu, yakni pertanian.

Selain itu, beberapa karakter akan menentukan daya saingmu kelak. Pertama, sikap Inovatif, yakni selalu menganggap segala sesuatu masih bisa disempurnakan. Kedua, intense intellectual curiosity alias rasa ingin tahu yang sangat kuat, khususnya ketika menemukan sebuah persoalan. Ketiga, peka akan data. Aneka unsur di industri pertanian melibatkan data yang sangat besar. Ketertarikan mengutak-atik data bisa jadi permulaan yang positif.

 

sumber: https://techcrunch.com/2016/11/19/the-tech-that-will-feed
Ads 2-04

About the author

Budi Prasetyo

Budi Prasetyo

Budi Prast adalah Founder jurusanku.com. Selain aktif melakukan penelitian di bidang pendidikan, bersama Ina Liem ia menulis “7 Jurusan Bergaji Besar”, "Kreatif Memilih Jurusan", dan "Majors for the Future". Minat utamanya meliputi pendidikan, data analytics, dan design thinking. Ia juga salah seorang Kontributor Kompas KLASS untuk rubrik #baca.

2 Comments

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*