Success Tips

Cara Meraih Prestasi Luar Biasa – Menggugat Anggapan Yang Keliru

simon-migaj-474563-unsplash

Buku “Talent Is Overrated” karya Geoff Colvin mengajarkan dua hal. Pertama, bagaimana mengubah prestasi yang biasa-biasa saja jadi luar biasa. Kedua, meskipun bisa, tidak ada jalan pintas menuju yang luar biasa.

Orang menghabiskan berjam-jam waktunya di pekerjaan. Banyak yang kerjanya baik, tapi hasilnya jauh di bawah kualitas yang disebut luar biasa. Contohnya, banyak akuntan yang sudah bekerja berpuluh tahun tetapi prestasinya biasa saja. Mengapa prestasi banyak orang tidak mengagumkan?

Screenshot 2019-02-28 11.25.06

Pertama, studi membuktikan prestasi hebat tidak selalu sejalan dengan pengalaman. Banyak orang menurun prestasinya seiring bertambahnya masa kerja. Banyak dokter senior ternyata dapat nilai lebih rendah ketimbang dokter yang kurang pengalaman saat dites pengetahuan medisnya.

Juga, Auditor berpengalaman tidak selalu lebih jago menemukan penggelapan uang perusahaan dibanding auditor yang lebih yunior. Broker saham senior tidak selalu lebih jitu dalam memberikan saran saham mana yang sebaiknya dibeli.

Kedua, prestasi hebat tidak ditentukan oleh bakat bawaan lahir. Tahun 1990an ada sebuah studi terhadap ratusan anak muda di sekolah musik di Inggris. Mereka yang awalnya tampak kurang berbakat ternyata menjadi top performer di akhir pelatihan intensif. Dengan jumlah jam latihan sama, anak yang semula dianggap berbakat tidak lebih cepat menguasai materi belajar.

Ketiga, IQ bukan penentu sukses di banyak profesi. Pimpinan perusahaan umumnya menganggap staf penjualan yang cerdas akan bekerja lebih baik ketimbang yang kurang cerdas. Studi menunjukkan tidak ada kaitan antara IQ dan sales performance. Artinya, jangan mengandalkan IQ untuk memprediksi kinerja bagian penjualan.

Ternyata di bidang olah raga catur juga demikian. Grand master catur sering dianggap orang dengan IQ super atau nyaris jenius. Nyatanya, ada Grand Master catur yang IQnya di bawah rata-rata.

Momen “EUREKA”

Bagaimana dengan mereka yang menghasilkan karya kreatif, inovasi, atau temuan luar biasa? Kita pernah dengar Archimedes menemukan rumus volume benda tak beraturan saat duduk di bak kamar mandi. Abraham Lincoln menulis karya terkenalnya, Gettysburg Address, karena inspirasi dadakan di kereta api menuju Gettysburg. Orang lalu percaya temuan jitu terjadi tiba-tiba seperti datangnya halilintar.

Faktanya tidak begitu. Prestasi hebat seringkali datang hanya pada orang yang sudah menguasai bidangnya. Bill Gates mendirikan Microsoft di usia muda ketika ia sudah menekuni programming bertahun-tahun sejak masih SMP. Begitu juga Joey Alexander. Musisi cilik asal Bali ini tampil di acara Grammy Award yang sangat bergengsi setelah menekuni bidang ini sejak usia 6 tahun.

Ada sebuah studi terhadap 76 komposer musik hebat di masa lalu untuk menelusuri kapan mereka mulai menghasilkan karya besar. Terbukti, tiap komposer perlu ‘masa persiapan’ 10 tahun sebelum punya karya unggulan. Studi lain menemukan hal serupa pada pelukis dan penyair hebat.

Riset menunjukkan bahwa ‘10 tahun masa persiapan‘ ini jadi syarat untuk menghasilkan karya gemilang di berbagai bidang pekerjaan. Ini sekaligus membuktikan bahwa inovasi cemerlang adalah hasil ketekunan dan kerja keras di satu bidang dalam kurun waktu yang tidak sebentar.

Practice Makes Perfect?

Orang bilang banyak latihan membuatmu hebat. Banyak pemain biola handal adalah pemusik biasa yang telah menjalani jam latihan lebih banyak dibanding pemain lain. Namun untuk menjadi luar biasa, yang terpenting bukan berapa banyak, melainkan bagaimana latihannya. Faktor penentunya adalah Deliberate Practice. Apa itu?

Deliberate practice bukan latihan sesering dan segiat mungkin. Deliberate artinya secara cermat menentukan unsur apa yang perlu ditingkatkan, lalu memfokuskan latihan dan semua upaya hanya pada unsur-unsur tersebut. Dalam prosesnya, si pelaku harus sering mendapat feedback atau evaluasi atas hasil yang dicapainya.

Apa manfaat Deliberate Practice? Pertama, cara ini membuat si pelaku lebih menguasai hal-hal penting dibanding orang lain. Di dunia tenis, kemampuan menebak arah bola lawan sangat menentukan hasil. Petenis handal tidak perlu memandang bola lawan. Ia cukup memperhatikan gerak tubuh lawan untuk menebak arah bola. Ia mampu melakukannya setelah latihan merespon puluhan ribu serve yang diarahkan padanya.

Kedua, deliberate practice membantu pelaku menyerap dan mengingat lebih banyak informasi seputar bidang keahliannya. Seorang pemain catur bisa mengalahkan komputer yang mampu mengolah 200 juta posisi per detik. Mengapa? Sebab ia sudah mempelajari banyak posisi bidak selama latihan bertahun-tahun.

Ketiga, deliberate practice mengubah tubuh dan bahkan otak. Lewat latihan intensif bertahun-tahun, jantung para atlit olahraga ketahanan tubuh bertambah besar. Komposisi ototnya pun berubah.

Banyak bidang memerlukan penguasaan materi yang sangat banyak sehingga perlu waktu lebih lama. Pemenang hadiah Nobel di bidang Fisika atau Kimia umumnya sudah tua sebab bidang ini memerlukan pemahaman teori yang sangat banyak dan mendalam. Oleh sebab itu, di bidang-bidang seperti ini seseorang sebaiknya melakukan persiapan sejak usia muda.

Membangun motivasi

Masalahnya, umumnya anak muda tidak punya cukup motivasi untuk mengejar prestasi gemilang, apalagi memelihara motivasinya untuk jangka waktu lama. Bagaimana caranya agar mereka termotivasi?

Pertama ada mekanisme Multiplier Effect (efek pengganda). Intinya, kelebihan atau keistimewaan tertentu bisa mendatangkan efek positif, seperti misalnya punya pembimbing hebat atau dukungan penuh dari orang sekitar. Ketika seorang anak yang suka main basket sendirian sekedar untuk iseng tiba-tiba mendapat pelatih yang memasukkannya ke team yang tepat. Pelatihan dan kepuasan berlatih seperti ini bisa menciptakan motivasi lebih kuat.

Kedua, untuk menghasilkan karya besar seseorang perlu ‘inner drive’, yakni motivasi terus menerus untuk menjadi hebat di bidangnya meskipun kadang tidak ada imbalannya. Umumnya, mereka yang punya prestasi luar biasa pada awalnya belum punya motivasi luar biasa. Jadi mereka perlu ‘dipaksa’. Paksaan kadang diperlukan di awal proses deliberate practice.

Nah, kalau kamu bertemu teman yang ‘katanya’ berIQ tinggi, jangan kecil hati. Begitu juga ketika melihat orang lain lebih berpengalaman di bidang yang ingin kamu tekuni. Peluang menjadi juara di bidang pilihanmu selalu terbuka, asal kamu bersedia menjalani resep di atas. Apa saja resepnya?

Pertama, tentukan unsur atau skill apa saja yang perlu ditingkatkan, lalu pusatkan seluruh perhatian, tenaga dan waktumu untuk memperbaiki diri pada skill tersebut. Pastikan ada pembimbing yang selalu memberi evaluasi atas pencapaianmu.

Kedua, persiapkan diri sedini mungkin. Karya besar sering dihasilkan mereka yang sudah melewati masa persiapan 10 tahun. Bidang tertentu memerlukan waktu lebih lama dibanding bidang lain. Ingat Joey Alexander di atas.

Ketiga, bangun motivasimu. Jika tidak bisa, jangan marah kalau orang tua atau pembinamu bersikap seperti ‘memaksa’. Paksaan sering diperlukan sebab memelihara motivasi tinggi untuk jangka waktu lama itu tidak mudah.

Kita sering tergoda untuk memilih cara yang cepat dan mudah. Adakah yang instan? Tentu saja ada ….. Mie goreng sambal hijau instan.

 

Sumber:

Geoff Colvin, “Talent is Overrated: What Really Separates World-Class Performers from Everybody Else'”, Portfolio, New York, 2010

Ads 2-04

About the author

Budi Prasetyo

Budi Prasetyo

Budi Prast adalah Founder jurusanku.com. Selain aktif melakukan penelitian di bidang pendidikan, bersama Ina Liem ia menulis “7 Jurusan Bergaji Besar”, "Kreatif Memilih Jurusan", dan "Majors for the Future". Minat utamanya meliputi pendidikan, data analytics, dan design thinking. Ia juga salah seorang Kontributor Kompas KLASS untuk rubrik #baca.

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*