Jurusan Hukum – Sekilas Karir dan Prospeknya

Jurusan Hukum termasuk jurusan paling populer di negeri ini. Hampir semua perguruan tinggi membuka jurusan ini. Minat terhadap jurusan ini tampaknya tidak akan surut dalam waktu dekat.

Wakil Ketua Pengadilan Negeri, Bandung, saat ditangkap KPK (nasional.kompas.com

Wakil Ketua Pengadilan Negeri, Bandung, saat ditangkap KPK (nasional.kompas.com)

JALUR KARIR

Banyak jalur karir yang bisa diharapkan dari jurusan Hukum. Selain menjadi pengacara, sarjana Hukum bisa berkarir sebagai jaksa, hakim, konsultan hukum, pejabat pembuat akta tanah, dan lain-lain. Lapangan kerjanya pun luas. Selain menjadi pegawai negeri, mereka bisa bekerja di perusahaan swasta, baik nasional maupun asing.

Di perusahaan, biasanya para sarjana hukum menduduki posisi di bagian Legal. Di bagian ini mereka bertanggung jawab atas semua urusan perusahaan yang terkait dengan hukum, perundang-undangan, lembaga peradilan, dan pengikatan perjanjian dengan pihak lain.

Sebagai contoh, perusahaan pemberi kredit sepeda motor tentu melakukan pengikatan dengan pihak yang mengambil kredit. Nah, untuk mengikatnya dalam perjanjian, ini adalah tanggung jawab bagian Legal. Pekerjaan seperti ni juga diperlukan di perusahaan asuransi, perumahan, penyewaan ruko, penyewaan lahan, penyewaan stand di mall atau pasar, dan lain-lain.

PENDIDIKAN LANJUTAN

Beberapa profesi di bidang Hukum memerlukan pendidikan tambahan. Pengacara harus mendapatkan izin kepengacaraan yang ditempuh lewat pendidikan. PPAT harus lulus dari pendidikan Notariat. Hakim memang bisa diambil dari sarjana hukum tanpa sertifikasi tambahan. Namun kedepan, Komisi Yudisial sudah mencanangkan untuk meniru negara lain dimana hakim disiapkan secara khusus dan hanya 10 orang terbaik yang diambil.

Bambang Widjojanto, mantan pengacara 'bersih' yang menjadi Wakil Ketua KPK (nasional.news.viva.co.id)

Bambang Widjojanto, mantan pengacara ‘bersih’ yang menjadi Wakil Ketua KPK (nasional.news.viva.co.id)

Salah satu contoh pengacara adalah Bambang Widjojanto. Ia menjalani separuh hidupnya memerangi ketidakadilan dan korupsi. Ia pernah memimpin Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, dan merupakan pendiri KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) bersama almarhum Munir. Ia termasuk pendiri Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN), Kontras, dan Indonesia Corruption Watch (ICW). Karena kiprahnya, ia meraih penghargaan Kennedy Human Rights Award.

Di awal kariernya, Bambang banyak bergabung dengan lembaga bantuan hukum (LBH), seperti LBH Jakarta, LBH Jayapura (1986-1993).  Bambang pernah menjadi pengacara/Tim Penasehat Hukum Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK. Karena pengalaman Khusus Pencegahan dan atau Pemberantasan Korupsi, Bambang sempat menjadi anggota Gerakan Anti Korupsi (Garansi), anggota Koalisi untuk Pembentukan UU Mahkamah Konstitusi. Kini beliau menjabat sebagai Wakil Ketua KPK. Tentu saja gaya hidup dan cara kerjanya beda dengan pengacara kaya yang sering pamer kekayaan di televisi.

Kalau melihat dandanan para pengacara sukses yang sering muncul di TV, orang bisa mendapat kesan yang keliru tentang profesi ini. Profesi pengacara tidak harus dikaitkan dengan melimpahnya materi. Faktanya, tidak semua pengacara kaya raya. Banyak pengacara yang terpanggil membela kaum lemah, buruh pabrik, perempuan dan anak-anak, hak asasi manusia, dan kaum pinggiran lainnya yang tidak mampu membayar mahal tapi sangat mendambakan keadilan. Pengacara seperti ini tidak mendapat penghasilan luar biasa seperti pengacara ‘selebriti’ bermobil super mewah.

PROFESI HAKIM

Begitu juga dengan profesi Hakim. Sebagai pegawai negeri, meskipun mendapatkan tunjangan yang lumayan besar, seorang hakim memang bukan termasuk orang yang bisa kaya raya. Tentu saja yang kita bicarakan di sini adalah hakim yang jujur dan hanya hidup dari gaji.

Bagi yang memenuhi syarat dan diterima sebagai hakim, gaji pertama seorang hakim baru yang belum menikah saat ini sudah lumayan tinggi, sekitar 18 juta rupah sebulan. Kepala pengadilan tentu saja mendapat lebih besar lagi. Besarnya gaji ini tak lepas dari upaya pemerintah untuk menciptakan aparat penegak hukum yang bersih. Dengan kesejahteraan yang lebih baik, diharapkan mereka bisa bekerja sesuai panggilan nuraninya. Memang, upaya pemerintah ini tidak selalu berhasil. Jika mentalnya bobrok, hakim yang sudah bergaji besar pun ada yang korupsi.

KUAT MENTAL DAN MORAL

Bagi yang ingin berkiprah di dunia penegakan hukum, hal pertama yang harus disiapkan adalah soal mental dan moral. Kalau tujuan awalnya ingin kaya raya, profesi hakim bukan jalur yang tepat. Kita sudah sering mendengar banyak hakim ditangkap KPK karena menerima sogokan dari tersangka. Dalam beberapa tahun kedepan, KPK tentu akan lebih ‘jago’ memenjarakan para penegak hukum ‘nakal’.

Jabatan tinggi tidak membuatnya merasa 'kecukupan'. Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar, keluar mobil tahanan KPK. (nasional.news.viva.co.id)

Jabatan tinggi tidak membuatnya merasa ‘kecukupan’. Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar, keluar mobil tahanan KPK. (nasional.news.viva.co.id)

Saat ini, menurut ketua Komisi Yudisial, Suparman Marzuki, untuk menjadi hakim tidak sulit bagi yang punya ‘koneksi’, baik kenalan dekat maupun keluarga yang memegang wewenang rekrutmen. Namun Komisi yang dipimpinnya sudah bertekad membersihkan praktek tidak sehat ini. Jadi kalau lulus dengan nilai biasa-biasa saja dari jurusan hukum, rasanya perlu memikirkan karir lain seandainya tidak diterima menjadi hakim.

Yang pasti, bidang penegakan hukum adalah bidang yang amat mulia. Rakyat sangat menggantungkan harapannya kepada para aparat untuk memperoleh keadilan. Keadilan artinya semua orang, baik kaya maupun miskin, mempunyai kedudukan yang sederajat di mata hukum.

JUJUR ATAU HANCUR

Namun bidang ini juga rawan dengan pelanggaran moral para pejabatnya. Bagi aparat yang berdedikasi tinggi menjalankan tugasnya, bidang ini bisa memberikan kepuasan dan sekaligus lahan untuk berbuat kebaikan. Namun bagi yang ‘tidak lurus’, meskipun bisa saja menjadi kaya, rasanya mereka hanya menunggu waktu sebelum tertangkap KPK. Bahkan saat ini ada upaya dari pihak KPK untuk memiskinkan para koruptor, seperti yang berlaku di Singapura.

Nah, bagi siapa saja yang merasa terpanggil untuk aktif memajukan kualitas hukum di negeri kita ini, jurusan Hukum menjadi pilihan tepat. Dengan modal pengetahuan dan gelar Hukum, seseorang bisa menjadi pahlawan yang akan membawa bangsa ini menuju cita-cita adil, makmur dan sentosa. Tanpa keadilan, mustahil sebuah bangsa menjadi makmur, apalagi sentosa.

 

hukum

Budi Prast adalah Founder dan Admin jurusanku.com. Selain aktif melakukan penelitian di bidang pendidikan, bersama Ina Liem ia menulis “7 Jurusan Bergaji Besar” dan "Kreatif Memilih Jurusan". Minat utamanya meliputi pendidikan, social media, blogging, dan knowledge management. Ia juga salah seorang Kontributor Kompas KLASS untuk rubrik #baca.

PERHATIAN: Admin berhak menghapus atau membatalkan komentar anda apabila dipandang tidak sesuai dengan etika sopan santun dan kepantasan atau tidak bermanfaat bagi pembaca. Bagi yang ingin berpartisipasi, mohon tuliskan juga nama anda. Terimakasih atas kerja samanya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disebarluaskan. Wajib diisi *

*