Karir dan Studi

Perguruan Tinggi Berorientasi Perubahan – bagian 4

Universitas Clark - Suasana santai saat diskusi perubahan iklim dan ekonomi dalam "Climate Change Teach-in", satu hari berisi pembicaraan, diskusi, dan lokakarya terkait perubahan iklim (foto: Gaia Khairani)
Universitas Clark - Suasana santai saat diskusi perubahan iklim dan ekonomi dalam "Pelatihan Perubahan Iklim", satu hari berisi pembicaraan, diskusi, dan lokakarya terkait perubahan iklim (foto: Gaia Khairani)

Membentuk karakter ‘siap perubahan’

Steve Jobs pernah mengatakan: “It’s in Apple’s DNA that technology alone is not enough.” Maksudnya, keunggulan Apple bukan semata soal kehebatan di bidang teknologi. Jobs menambahkan: “Teknologi yang berpadu dengan liberal arts, dengan wawasan humaniora lah yang membuahkan produk hebat”.

Menurut data, di 10 tahun mendatang, Indonesia kekurangan sekitar 15 ribu insinyur per tahun (Amish Alhumami, Harian Kompas 7 April 2016). Persoalan serupa dihadapi negara lain termasuk Amerika Serikat yang kekurangan lulusan STEM (sains, teknologi, rekayasa, matematika). Selain jumlah, lulusan seperti apa yang sungguh kita butuhkan?

Sumber; Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional

(Sumber: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional)

Masalahnya, sudah jumlahnya sedikit, sarjana di bidang Sains-Teknik (STEM) kita kebanyakan tidak dididik dengan model liberal arts. Mereka hanya menguasai bidang studi utamanya. Mereka tidak pernah bersentuhan dengan bahan ajar lain yang tidak langsung terkait dengan mata kuliah pokoknya.

Dr Loretta Jackson-Hayes, dosen kimia di Rhodes College, Memphis, membuat pernyataan singkat. “Jika lulusan STEM Amerika ingin tetap memimpin dunia di bidang inovasi, pendidikan sains tidak boleh dipisahkan dari liberal arts.” (washingtonpost.com).

Pendidikan bergaya liberal arts memang tidak lazim. “Benar sekali, harus banting setir! Awalnya, otak serasa jumpalitan, tetapi kemudian saya jadi kagum karena ternyata ada lho cara berpikir seperti ini,” kata Gaia mengenang.

Bahwa interpretasi bisa berbeda, harus beralasan, dan tidak semuanya hitam putih, membuat pikiran jadi terbuka dan sikap sok benar sendiri terkikis habis. Setelah saling membandingkan argumen, mereka jadi memahami dan menghargai fakta bahwa ternyata memang ada masalah yang solusinya tidak sederhana.

Karena terbiasa berpikir keras menghadapi aneka materi kuliah serta cara berpikir baru, lulusannya punya kemampuan beradaptasi yang tinggi. Sikap menghindar seperti “Maaf, tapi ini bukan bidang saya,” terdengar asing di telinga mereka. Justru menghadapi “yang bukan bidangnya” adalah hal biasa mereka hadapi sejak kuliah.

Sosok lulusan Liberal Arts university akan dibutuhkan di industri apa saja? Bagaimana dengan persaingan di pasaran tenaga kerja? Baca bagian akhir artikel ini.

Iklan 2-04

Tentang Penulis

Ina Liem

Ina Liem

Ina Liem sudah belasan tahun berkecimpung di dunia pendidikan, terutama pendidikan di luar negeri. Dia telah berkonsultasi, seminar, dan presentasi di hadapan puluhan ribu pelajar dan orang tua murid di banyak kota dan di beberapa negara tetangga. Selain menjadi Kontributor rubrik EDUKASI di KOMPAS KLASS, Ina adalah penulis (pengarang), pembicara (pembicara publik), dan Konsultan Career Direct Bersertifikat.

Tambahkan komentar

Klik di sini untuk mengirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *

*