Kiat Sukses

PERPUSTAKAAN dan LIFE STYLE

shutterstock_172950287
(Artikel ini adalah kontribusi Muhammad Rosyihan Hendrawan, seorang sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi lulusan program S2 dari Universitas Indonesia.)

Kualitas perpustakaan bisa dilihat bukan hanya dari layanan yang tersedia, tetapi juga dari manfaat apa saja yang bisa diperoleh dari semua layanannya itu.

Ini yang selalu jadi perhatian utama setiap pemustaka (pengguna perpustakaan). Oleh sebab itu tugas pustakawan antara lain adalah mencari tahu kebutuhan komunitas-komunitas para pengguna.

Kebutuhan pemustaka dapat dilihat melalui gaya hidup (kehidupan gaya) mereka. Gaya hidup merupakan salah satu topik penting yang perlu dipahami pustakawan jika ingin mengembangkan konsep layanan perpustakaan yang profesional di era informasi ini.

Yang dimaksud gaya hidup adalah cara seseorang beradaptasi dengan lingkungan sosialnya untuk memenuhi kebutuhan bersosialisasi dengan orang lain. Sebagai contoh, di kalangan anak muda ada kebutuhan akan cafe atau tempat nongkrong dengan wi-fi dimana mereka bisa membaca, berselancar di internet sambil makan-minum dan ngobrol dengan teman-teman.

Cara berpakaian, cara kerja, konsumsi, termasuk pada aktivitas berselancar di internet serta bagaimana individu mengisi kesehariannya adalah unsur-unsur yang membentuk gaya hidup pemustaka saat ini yang umumnya adalah generasi bersih dan asli digital. Hal ini harus menjadi perhatian pustakawan.

Saat ini pustakawan profesional tidak hanya dituntut mampu memahami karakteristik dan gaya hidup pemustaka, tetapi lebih dari itu mereka harus mampu bersikap pro-aktif dan inovatif, bahkan memastikan diri untuk mampu menciptakan berbagai kebutuhan yang membuat pemustaka semakin tergantung pada perpustakaan.

Model Perpustakaan Modern

Perpustakaan milik Badan Perpustakaan dan Kearsipan Pemprov. Jawa Timur di Surabaya adalah contoh yang baik. Di perpustakaan ini ada fasilitas katalog online. Pengunjung bisa mencari buku dengan memasukkan judul buku yang dicari pada komputer yang tersedia di ruang depan, mirip dengan fasilitas pencarian buku di toko buku Gramedia.

Petugas front office sangat ramah dan informatif. Nampaknya mereka telah dilatih memberikan customer service yang profesional. Proses untuk masuk dan menitipkan tas atau bawaan sangat cepat.

Pemandangan sekilas di dalam perustakaan milik Pemprov. Jawa Timur
Pemandangan sekilas di dalam perustakaan milik Pemprov. Jawa Timur

Dari ruang depan sudah tampak bagian dalam perpustakaan yang cukup luas dengan puluhan rak buku yang tertata rapi. Koleksinya lumayan lengkap dan updated. Ruang full AC ini terasa nyaman untuk belajar, Baca, melakukan riset, atau mengerjakan tugas.

Di ruang lain tersedia beberapa sofa bagi mereka yang ingin membaca dengan santai. Disampingnya ada ruang terbuka berisikan beberapa komputer dengan fasilitas internet gratis.

Naik ke lantai atas, pengunjung akan memasuki area Referensi, yaitu ruang dengan koleksi buku, ensiklopedi, surat kabar, majalah dan semua referensi lain yang tidak bisa dibawa pulang. Di sini pun terdapat komputer dengan koneksi internet gratis.

Menarik, ini bukan hanya tempat untuk membaca. Banyak kegiatan menarik dihelat di sana, seperti misalnya kegiatan robotik remaja, pelatihan bercocok tanam yang disusul dengan kegiatan di ladang sampai membuahkan hasil, kegiatan mendongeng untuk anak, pentas musik, dan lain-lain. Pendek kata, perpustakaan ini punya seabrek fasilitas dan kegiatan yang ‘happening’.

Ruang Publik dan Lifestyle

Perpustakaan ini memang diarahkan menjadi Ruang Publik di mana masyarakat bisa berkegiatan apa saja selama bermanfaat. Para pustakawan di sana juga berancang-ancang untuk mengakomodasi Gaya Hidup para pengguna. Tempat dan sarana sedang disiapkan untuk membangun kafe yang luas nan nyaman dengan fasilitas wi-fi. Nantinya pemustaka bisa membawa buku ke sana, membaca sambil makan, kongko dengan teman atau komunitas mereka.

Untuk menciptakan inovasi layanan yang berfokus pada gaya hidup, pustakawan yang benar-benar baik harus menyediakan waktu untuk mendengarkan “suara komunitas pemustaka” untuk mengidentifikasi nilai-nilai yang membentuk gaya hidup merekad.

Bila perpustakaan sesuai dengan gaya hidup pemustaka, mereka tentu akan berbagi pengalaman mengasikkan ini kepada orang lain. Cepat atau lambat gambar profesi pustakawan akan berubah menjadi lebih positif. Perpustakaan pun akan menjadi pusat berbagai macam kegiatan masyarakat yang berkualitas, inspiratif, dan sangat terjangkau untuk semua kalangan. []

Iklan 2-04

Tentang Penulis

Muhammad Rosyihan Hendrawan

Muhammad Rosyihan Hendrawan

Hendrawan adalah peneliti independen bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi dan anggota Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII).

Tambahkan komentar

Klik di sini untuk mengirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *

*