Kiat Sukses

Masa Depan Pekerjaan – Akan dibawa kemana generasi muda kita?

shutterstock_228989593

Hasil studi World Economic Forum 2018 menyatakan bahwa sepertiga dari keahlian penduduk dunia yang banyak digunakan di dunia kerja saat ini akan berubah.

Segala sesuatu yang dihasilkan sistem-sistem cerdas dan robot industri akan memaksa kita ikut beradaptasi. Yang tidak menyesuaikan diri akan tersingkir dalam pekerjaannya.

Dalam laporan Organisasi Buruh Internasional (ILO), sekitar 56% dari total pekerjaan di Indonesia berisiko tinggi tergantikan oleh robot dan otomatisasi. Sektor industri yang paling rawan terdampak adalah hotel, restoran, perdagangan dan retail, konstruksi, dan pabrik. Sektor yang relatif tidak tersentuh adalah pendidikan, kesehatan, pelatihan, dan pekerjaan sosial.

Bagaimana perasaan anak muda tentang hal ini?? Hasil studi Deloitte menyatakan kaum milenial Indonesia optimis melihat tren industri 4.0. Hasil survey menunjukkan bahwa lebih dari 50% anak muda percaya industri 4.0 justru akan memudahkan pekerjaan dan memungkinkan mereka untuk fokus pada hal penting lainnya.

Hanya 20 % yang menganggap industri 4.0 tidak akan berdampak bagi pekerjaan mereka. Artinya, mayoritas anak muda percaya pekerjaan di masa depan akan berubah. Berikut adalah prediksi 10 pekerjaan yang paling dicari dan 10 pekerjaan yang mulai kurang diminati dunia kerja.

Lanskap-Pekerjaan-2020

 

Pada tabel di atas jelas terlihat hampir semua posisi yang paling banyak dicari adalah di sektor teknologi atau terkait perusahaan startup. Memang, banyak perusahaan akan berubah menjadi perusahaan teknologi. Artinya, apapun industrinya, teknologi akan berperan sangat sentral dalam operasional sehari-harinya.

Tidak, Ada banyak peluang di bidang ini (133 juta pekerjaan), bahkan lebih banyak ketimbang jenis pekerjaan yang mulai kurang dicari perusahaan alias Top 10 Declining yang hanya 75 juta. Dari sini tersirat kira-kira program studi apa yang berprospek cerah dan mudah mendapatkan pekerjaan. Ini dari sisi program studi. Tapi bukan itu saja yang dibutuhkan industri.

Robot Bukan Lawan Manusia

Dulu robot dianggap mencuri pekerjaan manusia. Namun dengan sistem yang makin cerdas, tren ke depan manusia justru harus bisa bekerja berdampingan dan memanfaatkannya. Mengapa? Karena sistem otomatis bisa bekerja sangat efisien, tak kenal lelah, dan menghasilkan lebih banyak, namun tidak mampu melakukan hal-hal lain yang hanya bisa dilakukan manusia.

Akibatnya, akan ada lebih banyak pekerjaan baru ketimbang yang hilang. Hasil studi McKinsey (2017), di antara 2013 dan 2030 ada sekitar 23 juta pekerjaan yang hilang. Namun kabar baiknya, akan muncul 46 juta pekerjaan baru.

Kalau selama ini peran manusia sekitar 70% dalam merampungkan sebuah pekerjaan, dan hanya 29% yang dilakukan mesin, hal-hal akan berubah. Di tahun 2025, manusia hanya menghabiskan 48% dari total jam kerja sedangkan mesin 52%. Bahkan jika itu tidak benar-benar canggih, banyak pekerjaan terkait komunikasi, koordinasi, interaksi, dukungan saran dan nasihat mulai dikerjakan mesin.

Melihat tren di atas, kita bisa memperkirakan bahwa kebutuhan akan skill tertentu akan turun sedangkan skill lain akan sangat diminati dunia kerja (lihat table di bawah). Dalam hasil survey World Economic Forum disebutkan bahwa “manusia akan lebih fokus pada pemecahan masalah secara kreatif dan kolaborasi”. Pada tabel berikut, lajur kiri adalah daftar kemampuan yang makin dicari, sedangkan lajur kanan ketrampilan yang makin berkurang perannya.

Outlook-Keterampilan-2022

Kolom kiri adalah daftar skills yang sangat dibutuhkan, sedangkan kolom kanan adalah kemampuan yang semakin sedikit diminati dunia kerja.

Perhatikan bahwa berpikir kritis dan inovatif menduduki tangga teratas. Orang yang malas berpikir dan hanya menyukai pekerjaan rutin dan gampang akan tersingkir. Kemampuan menghafal jelas-jelas termasuk skill yang makin tidak dibutuhkan. Dan sebaliknya, kreativitas dan keaslian (keaslian) pemikiran akan sangat diburu. Begitu juga kemampuan bekerja sama dalam tim. Sementara itu, kemampuan teknis di bidang teknologi digital dan coding akan sangat menunjang.

Dunia Freelancer

Pada tahun 2014 laporan Oxford Economics menunjukkan bahwa tren tenaga kerja akan mulai berubah di tahun 2020. Dasarnya, 83% pimpinan perusahaan besar dunia mengatakan akan semakin banyak memakai jasa konsultan dan pekerja kontrak. Itu sebabnya Gig Economy akan jadi tren di dunia kerja.

Apa itu Gig Economy? Ini istilah di mana dunia kerja menawarkan pekerjaan jangka pendek (pekerjaan pertunjukan) yang fleksibel jam kerjanya. Istilah kerennya freelance job. Kini mulai banyak digital platform yang menghubungkan para pekerja independen dengan perusahaan yang membutuhkan jasa mereka. Namun bekerja sebagai freelancer tidak semudah bekerja sebagai karyawan. Detailnya bisa baca disini.

Memang, mesin dan robot mampu membuat pekerjaan jadi mudah. Tapi tanpa manusia yang kreatif dan kritis, dunia tidak akan menjadi lebih baik sebab banyak masalah pelik tidak bisa diselesaikan oleh mesin dan algoritma. Kemampuan kognitif meliputi berpikir kritis, kreativitas, dan pengambilan keputusan. Permintaan akan tenaga kerja dengan keterampilan kognitif tinggi akan terus meningkat hingga saat ini 2030.

Tidak, buat kamu yang sudah kuliah, jangan hanya puas dengan nilai akademik tinggi, apalagi kalau itu diperoleh lewat hafalan. Kembangkan berbagai kemampuan di atas. Tidak banyak orang berpikir kritis di sekitar kita. Mau bukti? Berapa banyak orang turun ke jalan untuk memprotes pemerintah tanpa tahu masalahnya? Berapa yang mampu mengajukan solusi? Padahal di dunia kerja, pimpinan butuh bantuan solusi, bukan orang pintar dengan gelar berderet.

Berpikir inovatif perlu waktu untuk berkembang. Maraknya bisnis anak muda di bidang kuliner menunjukkan kurang inovatifnya mereka. Ada begitu banyak masalah di sekitar kita yang butuh solusi jitu. Ada jutaan orang menanti solusi di bidang pertanian, perikanan, berdagang, distribusi, pendidikan dan lain-lain. Itu kesempatan yang luar biasa. Di sana lah lahan kalian berinovasi. Tapi ingat, solusi berasal dari kemampuan problem solving, dan itu hanya dimiliki orang dengan kemampuan kognitif yang memadai. Sukses selalu.

 

Sumber:

Prof. dr. Sri Adiningsih, S.E., M.Sc., dkk “Transformasi Ekonomi Berbasis Digital di Indonesia” (2019)

Iklan 2-04

Tentang Penulis

Budi Prasetyo

Budi Prasetyo

Budi Prast adalah Founder jurusanku.com. Selain aktif melakukan penelitian di bidang pendidikan, bersama Ina Liem ia menulis “7 Jurusan Bergaji Besar”, "Kreatif Memilih Jurusan", dan "Jurusan untuk Masa Depan". Minat utamanya meliputi pendidikan, analitik data, dan pemikiran desain. Ia juga salah seorang Kontributor Kompas KLASS untuk rubrik #baca.

Tambahkan komentar

Klik di sini untuk mengirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *

*