Kiat Sukses

Pilih Dimana? Mendalami Hip-Hop, K-Pop atau Gamelan?

Bali

Siapa tidak suka K-Pop, drama korea, tari Hip-Hop, gambar manga, Gaya Busana Jepang, dan bela diri asing.

Tidak sedikit yang serius menekuninya, baik di sekolah lewat eskul, kursus, atau merampas mereka. Lewat aplikasi Tik-Tok, tak terhitung yang tampil bergaya memamerkan kebolehannya.

Memang, setiap orang bebas memilih aktivitas atau hobi. Akan tetapi jika ingin dijadikan karier masa depan, mengapa seni impor yang didalami ketika di dalam negeri ada begitu banyak pilihan? Timbul pertanyaan, apa ruginya kalau tidak mengenal warisan budaya sendiri?

Ruginya banyak. Bicara peluang karier masa depan, tidak berlebihan kalau kemampuan berkesenian tradisional bisa dijadian karier bermasa depan cerah. Ada banyak orang dengan karya mendunia karena mereka konsisten menampilkan warisan budaya lokal. Sebut saja Iko Uwais, Yayan Ruhiyan, William Wongso, grup musik Weird Genius, Eko Nugroho, Sardono W. Kusumo, Martinus Miroto, dan masih banyak lagi.

Going Global dengan Warisan Leluhur

Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan bukan aktor lulusan Institut Seni. Tapi namanya mulai dikenal di Hollywood lewat Silat, seni beladiri asli Indonesia. Cecep Arif Rahman, guru silat yang sering memberikan workshop silat di Inggris, Italia, Rusia, Amerika Serikat, dan Prancis, juga tampil di film yang dibintangi Keanu Reeves. Produser film tahu mereka bukan aktor pemain watak. Keunikan budaya lokal lah yang menjadi magnet bagi filmnya.

(foto: dailymotion.com)
(foto: dailymotion.com)

Chef William Wongso tidak akan digandeng celebrity chef dunia, Gordon Ramsay, di film produksi National Geographic kalau ia tidak paham kuliner asli Indonesia berikut ‘cerita unik’ di balik hidangan asli Sumatera Barat.

Kalau Gordon hanya ingin membuat film cara memasak rendang, ia bisa ajak chef mana saja. Tapi itu bukan hal utama yang ingin ditampilkan di filmya. Yang menarik dari kuliner Sumbar adalah Bajamba, budaya makan warisan leluhur yang tidak ada duanya.

Di kalangan penggemar musik eksperimental, siapa tak kenal Weird Genius, tiga sekawan yang melejit lewat karya mereka, Lathi. Lagu ini unik dan langsung ‘kena’ di benak penikmat musik, di dalam maupun di luar negeri. Video clipnya ditonton 100 juta kali lebih hanya dalam beberapa bulan.

Apa yang unik? Ini lagu Barat, namun disisipi rap berbahasa Jawa halus dengan nada pelog Jawa, dan didukung video clip yang “sangat bernuasa lokal”. Uniknya, ketiga personel Weird Genius bukan sosok yang hidup dengan kultur Jawa. Mereka menggali konten dan konteks Jawa, baik isi cerita, pilihan nada dan visual, sampai memilih penyanyi yang fasih mengatakan Jawa. Selain tongkat, lagu mereka “Tersimpan Di Hati” juga menampilkan kekuatan kultur lokal yang sangat kental.

Kejutan, Kompas.com melaporkan: “Weird Genius dan ‘Lathi’ Terpampang di Billboard Times Square New York”. Bukan itu saja. Mereka dapat tawaran kontrak dari perusahaan record label Amerika alias langsung Go International. Apa ini kebetulan? Tidak. Sejak awal mereka memang mengincar pasar internasional. Caranya? Ya itu tadi, menampilkan konten lokal.

(foto: hot.detik.com)
(foto: hot.detik.com)

Di bidang seni rupa, kita punya banyak seniman yang sukses sampai di manca negara. Eko Nugroho adalah contoh menarik. Salah satu karyanya dijadikan desain untuk produk scarf Louis Vuitton. Mengapa? Sekali lagi, budaya lokal.

Menurut Eko, inspirasinya dari lingkungan dan problema sosial di sekelilingnya. Latar belakang pegunungan menggambarkan dewa-dewa masa lalu. Perpaduan budaya mistis dan alam Indonesia diwakili warna cerah, hijau, biru, kuning, pink sebagai simbol kebebasan. Unsur biji kopi sebagai salah satu komoditi unggulan kita ikut memperindah desainnya. Diluncurkan tahun 2013, scarf ini dibanderol hampir 10 juta rupiah. Ini scarf, lho.

Mengenali & Menggali lebih dalam

Martinus Miroto belajar menari sampai meraih gelar doktor dan mendunia dengan tari topengnya. Di dunia seni tari, banyak seniman kita dikenal dunia lewat tari tradisional, khususnya Jawa. Sebut saja Sardono W. Kusumo, Kussudiardjo Baru, dan Nungky Kusumastuti. Mereka menggali budaya daerahnya sendiri karena memang dibesarkan di kultur Jawa. Namun tidak harus demikian.

(Antarafoto.com)
(Antarafoto.com)

Banyak karya keren diinspirasi warisan budaya daerah lain. Didit Maulana yang besar di Jabar sukses dengan tenun ikat Nusa Tenggara. Weird Genius yang lahir dan besar dengan kultur Jabar dan Metropolitan mengangkat kultur Jawa. Bahkan William Wongso yang keturunan Tionghoa getol mempromosikan budaya makan Bajamba asli Sumatera Barat lewat film serial National Geographic.

Mengapa mereka begitu sukses meraih perhatian internasional? Jawabnya jelas: mereka membawa konten lokal ke dunia luar. Kita sangat kaya dengan warisan budaya asli. Ada banyak tarian otentik, musik dan instrumen unik, kaligrafi Jawa dan Bali, nyanyian /tembang, kuliner dengan ritual artistik, busana eksotik, dll..

Bisa menyanyi gaya K-Pop tidak akan membuat dunia internasional kagum. Bisa memasak kuliner Perancis tidak akan membuat orang Barat terheran-heran. Jago hip-hop dance di sini bukan tiket VIP untuk menerobos panggung dunia.

Tidak, kalau kamu ingin memenangkan persaingan di industri kreatif, gali dan dalami warisan budaya lokal. Jangan remehkan pelajaran kesenian. Mimpi Go International bukan omong kosong. Sudah banyak buktinya. Ayo, mulailah membuka “kotak warisan” budaya sendiri.

 

Iklan 2-04

Tentang Penulis

Budi Prasetyo

Budi Prasetyo

Budi Prast adalah Founder jurusanku.com. Selain aktif melakukan penelitian di bidang pendidikan, bersama Ina Liem ia menulis “7 Jurusan Bergaji Besar”, "Kreatif Memilih Jurusan", dan "Jurusan untuk Masa Depan". Minat utamanya meliputi pendidikan, analitik data, dan pemikiran desain. Ia juga salah seorang Kontributor Kompas KLASS untuk rubrik #baca.

Tambahkan komentar

Klik di sini untuk mengirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *

*