Karir dan Studi

Belajar Pengembangan Pariwisata di Skotlandia – bagian 3

shutterstock_151123712

Merancang Kota Wisata, Tantangan bagi Mahasiswa Indonesia

"Bekerja keras, bermain dengan serius". Setelah lelah beraktivitas seminggu penuh, orang biasa berakhir di kota terdekat yang indah atau sejuk. Sayangnya pilihan destinasinya itu-itu saja.

Bagi orang Surabaya dari dulu tujuan akhir pekan nya hanya Malang, Batu, atau Tretes. Celakanya, semuanya ini lewat rute yang sama. Kemacetan luar biasa di Porong, memasuki Malang, dan jalan menanjak ke Batu, selalu terjadi.

Di tempat tujuan, situasinya sudah ada penuh sesak. Ini mengurangi kenyamanan. Untuk makan dan cari tempat parkir sulit. Ini juga dialami kota lain seperti Jakarta, Bandung, dan Medan.

Ada anggapan, pemandangan alam tujuan wisata harus indah dan udaranya sejuk. Padahal banyak orang mencari pengalaman / kegiatan unik, menjelajah sambil membayangkan dunia tempo doeloe, atau sekedar memanjakan mata dengan pemandangan yang tidak ditemui setiap hari. Keunikan tiap daerah bisa dikembangkan untuk ini.

Jalan utama di kota buku Wigtown (http://www.cultscottageholidays.co.uk)
Jalan utama di kota buku Wigtown (http://www.cultscottageholidays.co.uk)

Inilah tantangan bagi calon mahasiswa Indonesia yang berminat mengambil Program S-2 dengan gelar MLitt in Pariwisata, Warisan dan Pembangunan di Universitas Glasgow, Skotlandia, Inggris. Cara mengembangkan kota-kota tematis di sejumlah tempat di Skotlandia bisa dijadikan contoh.

Kota-kota Tematis di Skotlandia

Untuk menghidupkan sebuah wilayah menjadi tujuan wisata, beberapa kota kecil di sekitar Dumfries, Skotlandia layak jadi bahan pembelajaran. Sejak tahun 1998, ada tren mem-merek kota-kota kecil dengan tema unik untuk menarik wisatawan. Ada tiga kota kecil yang dijadikan proyek inisiatif, yaitu Kota Buku Wigtown, Kota Seniman Kirkcudbright, dan Kota Makanan Kastil Douglas.

Kota Makanan Kastil Douglas, surga kecil para wisatawan penikmat kuliner (foto dok. Donald McLeod)
Kota Makanan Kastil Douglas, surga kecil para wisatawan penikmat kuliner (foto dok. Donald McLeod)

Di 10 tahun, Wigtown yang hanya dihuni 1.100 orang berubah menjadi kota kecil yang ramai dengan para pencinta buku. Kota yang tadinya hanya punya 1 toko buku bekas, sekarang punya 13 toko buku dan berbagai bisnis terkait perbukuan, serta 1 galeri. Selain jumlah turis meningkat, investor berdatangan menciptakan efek pengganda (efek pengganda) yang menopang kesinambungan ekonomi setempat dan meningkatkan nilai properti.

Ini juga dialami Kirkcudbright. Kota kecil dengan 3.600 penduduk ini selama ratusan tahun mengandalkan pelabuhan perikanan dan pelabuhan minyaknya sebagai sumber pendapatan utama. Namun sejak 1980-an, tren bisnis berubah. Penangkapan ikan dan penurunan minyak. Tetapi kota ini cepat melihat peluang untuk memulihkan kondisi ekonominya.

Menilik sejarah Kirkcudbright, selama 100 tahun terakhir para seniman berdatangan ke kota ini untuk mencari ide dan menghasilkan karya. Berangkat dari keunikan ini, para pengembang pariwisata melihat potensi untuk menciptakan kota tematis.

Kirkcudbright juga mendapatkannya merek baru sebagai “Kota Seniman”. Rumah peninggalan seorang seniman terkenal, DARI Hornell, disulap menjadi galeri seni. Sejak tahun 2000 beberapa galeri seni kecil milik swasta bermunculan. Ini menguatkan topi sebagai kota seniman.

Kirkcudbright dari kejauhan (http://www.artistsfootsteps.co.uk)
Kirkcudbright dari kejauhan (http://www.artistsfootsteps.co.uk)

Dalam beberapa pameran, kota ini bahkan mampu memajang karya-karya seni kelas dunia seperti Monet, dan mendatangkan pengunjung yang jauh lebih banyak dari jumlah penduduk kota itu sendiri. Besar, untuk membiayai ahli pengembangan wisata, komunitas setempat berhasil menghimpun dana lewat dua organisasi non-pemerintah.

Namun, inisiatif saja kadang belum cukup. Pekerjaan rumit yang melibatkan banyak pihak ini memerlukan keahlian yang mumpuni, khususnya di bidang pengembangan wisata. Dengan konsep yang matang dari para anggotanya ditambah gerakan berdasarkan komunitas, kita boleh optimistis banyak perubahan positif bisa dihasilkan demi pariwisata Indonesia yang lebih baik.

Berbekal ilmu pengembangan pariwisata, apa yang bisa kita lakukan untuk membangun tujuan-tujuan wisata baru yang tak kalah menarik dibanding destinasi yang sudah populer saat ini? Simak gagasan tentang potensi kota Pasuruan di Jawa Timur dan contoh nyata hasil pengembangan wisata baru di Klaten (baca bagian 4)

Iklan 2-04

Tentang Penulis

Ina Liem

Ina Liem

Ina Liem sudah belasan tahun berkecimpung di dunia pendidikan, terutama pendidikan di luar negeri. Dia telah berkonsultasi, seminar, dan presentasi di hadapan puluhan ribu pelajar dan orang tua murid di banyak kota dan di beberapa negara tetangga. Selain menjadi Kontributor rubrik EDUKASI di KOMPAS KLASS, Ina adalah penulis (pengarang), pembicara (pembicara publik), dan Konsultan Career Direct Bersertifikat.

Tambahkan komentar

Klik di sini untuk mengirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *

*