Bagi individu, apakah passion itu memerdekakan atau menyesatkan? Bagi keluarga atau komunitas, apakah passion itu menjelaskan dan menegaskan atau justru membingungkan dan merepotkan? Bagi korporasi atau organisasi, apakah passion itu memberdayakan atau justru merunyamkan?
Sejak beberapa tahun terakhir, pembahasan mengenai passion semakin sering dan lazim. Semakin banyak penulis dan buku lokal membahasnya. Semakin bertambah orang-orang yang menampilkan passion dalam berbagai kesempatan. Sebagian bahkan menyebut diri sebagai passion coach, passion mentor, atau beragam julukan lain. Sebuah profesi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Semakin beragam pula organisasi atau brand yang menggunakan kata “passion” sebagai pemicu dalam iklan ataupun program.
Itu kabar baiknya. Kabar buruknya, pembahasan passion tidak selalu berakibat baik karena masih saja sering disalahartikan. Tidak heran masih ada yang berpandangan diskusi mengenai passion tidak perlu, tidak bermanfaat, bahkan tidak produktif. Argumen kontra yang paling sering terdengar, apa jadinya jika passion tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup? Jika terus-menerus mengejar passion, apa artinya harus berpindah pekerjaan, jadi manusia super idealis yang siap hidup susah, dan membuat keluarga juga jadi susah? Apa jadinya bisnis jika perusahaan yang notabene berorientasi profit harus meluangkan waktu dan sumber daya untuk passion para karyawannya?
Bagi sebagian organisasi, pembahasan passion bahkan masuk kategori haram. Umumnya, para pemimpin perusahaan macam ini khawatir akan kehilangan karyawan jika mereka tahu, paham, dan peduli passion. Oleh karena itu, pilihan paling aman, ya lupakan saja passion. Fokus saja pada pekerjaan dan produktivitas kerja!
Bagaimana menurut Anda?
Jika “Anda” adalah Ken Robinson, jawabannya tersedia dengan lengkap dan lugas dalam buku terbarunya Finding Your Element. Buku ini merupakan kelanjutan dari buku terdahulu yang juga ditulis oleh Ken Robinson berjudul The Element, sebuah kajian lengkap tentang bagaimana passion bisa mengubah segalanya. Ya, segalanya, tidak hanya hidup Anda, tetapi juga orang lain, makhluk lain, dan alam semesta. Kenapa bisa begitu? Hal ini karena semua, ya semua, karya, kreasi, terobosan, inovasi, dan kontribusi yang pernah, masih, dan akan terjadi senantiasa dilandasi oleh passion!
Jika tidak pernah mendengar Ken Robinson, saya persilakan Anda untuk berhenti membaca artikel ini sejenak dan segera googling nama beliau. Baca tulisan, amati cerita hidup, dan tonton video-videonya. Percayalah, Anda rugi jika tidak tahu. Dan, kerugian lebih besar jika Anda tidak peduli.
Memahami jati diri
Ken Robinson atau sering kali ditulis dengan gelar kebangsawanannya sebagai Sir Ken Robinson adalah seorang pendidik, penulis, dan pengamat sistem pendidikan global. Dia termasuk yang terdepan dalam mendorong negara-negara dan organisasi-organisasi di dunia untuk melakukan berbagai upaya mendorong kreativitas, inovasi, dan potensi manusia. Salah satu paparannya di TED.com tahun 2008 berjudul “Bagaimana Sekolah Membunuh Kreativitas Manusia (guru dan murid)” telah ditonton lebih dari 13,5 juta kali, pemegang rekor terbanyak di TED.com. Bagi saya, Sir Ken Robinson adalah salah satu pemikir terbaik abad ini.
Finding Your Element bisa jadi adalah buku kerja (workbook) dari buku sebelumnya The Element. Saya rekomendasikan Anda membaca keduanya walaupun jika tidak ada waktu atau sudah sangat penasaran, boleh saja langsung baca dan mengerjakan latihan-latihan dalam Finding Your Element. Tidak masalah.
Finding Your Element dipenuhi belasan cerita perjalanan hidup orang-orang yang berproses memahami jati diri (baca: passion) dan dalam perjalanannya memunculkan kreasi karya keren yang dinikmati orang lain. Ada cerita seorang pesulap andal yang mengawali kehidupan profesionalnya sebagai insinyur komputer. Ada lagi cerita seorang anak perempuan dari kota kecil di Yunani dengan segala keterbatasannya menjelma jadi seorang komentator politik ternama di sebuah stasiun berita global yang Anda pasti kenal dia. Ada juga cerita Paul McCartney, Arianna Huffington, dan banyak figur yang mengisi kancah global pada berbagai bidang. Ketenaran, kekayaan, dan kesuksesan bagi orang-orang tersebut adalah sekadar akibat atau by product, sama sekali bukan tujuan utama.
Ken Robinson tidak sekadar mengetengahkan kisah sukses. Jauh lebih penting dari itu, Finding Your Element mengungkap momen-momen saat talenta alamiah bertemu dengan passion pribadi. Di sana, muncul keasyikan berkarya, kreasi hebat yang teresonansi melampaui batas ruang dan waktu.
Semua figur yang diceritakan dalam buku Finding Your Element menceritakan perjalanan menemukan jalan (pathway) hidup masing-masing. Jalan tersebut bisa diibaratkan tersusun dari serpihan-serpihan roti yang secara samar-samar membantu orang tersesat keluar dari jaringan jalan ruwet membingungkan (maze).
Serpihan roti tadi adalah perasaan yang dirasakan setiap kali mengerjakan sesuatu. Serpihan roti itu adalah minat akan hal-hal tertentu yang sering kali tidak kita pedulikan. Serpihan roti tersebut adalah gambaran passion dalam diri masing-masing.
“Insights” baru
Berbagai argumen dan cerita Finding Your Element mengungkapkan passion sudah ada dalam diri setiap orang tanpa terkecuali. Rasa keingintahuan, ketertarikan, dan minat adalah petunjuk awal ideal untuk memahami passion. Apa minat Anda? Apa yang senantiasa menggugah keingintahuan Anda? Apakah Anda peduli?
Finding Your Element juga menegaskan kalau minat tidak pernah acak, tidak mungkin random, tetapi justru membentuk pola yang harus dipahami agar kita tahu elemen diri. Minat bisa berganti, tetapi senantiasa merupakan bagian dari sebuah pola besar yang telah terpatri dalam diri. Sebagian minat bisa tumbuh dan berkembang, sementara sebagian lain tetap tersembunyi. Semua tergantung pada bagaimana kita menetapkan pilihan-pilihan hidup.
Pastikan Anda mengerjakan semua isian dan latihan praktis dalam Finding Your Element, tidak ada hal-hal yang sama sekali baru, terlebih jika Anda rajin membaca buku self-help lain. Namun, jika dipadukan dengan narasi argumentatif Sir Robinson, Anda akan memperoleh insights baru tentang diri sendiri. Hal-hal ini yang akan sangat bermanfaat dalam menavigasi kehidupan profesional Anda.
[guestpost]Artikel ini adalah tulisan Rene Suhardono yang dimuat di Kompas KLASS pada Jumat, November 2013. Rene adalah Penulis dan Pembicara Publik. Buku karyanya antara lain “Your Job Is Not Your Career” dan “The Ultimate U”. Dimuat di blog ini seizin Kompas KLASS. Rene bisa dihubungi di @ReneCC.[/guestpost]
rene123


Add Comment