Magang, Seberapa Pentingkah?

Kegiatan magang memang bukan kegiatan wajib di SMA. Namun perannya dalam membantu siswa memahami dunia kerja umumnya akan memudahkan mereka dalam menentukan pilihan karir. Dari sana, mereka bisa mulai menjajaki jurusan apa saja yang layak dipertimbangkan sebelum lulus.

Salah satu sekolah yang secara teratur membantu siswa ‘mengalami’ dunia kerja adalah SMA St. Hendrikus di Surabaya. Berikut ini kisah singkat tiga siswanya yang ingin membagikan pengalaman sekaligus pelajaran dari magang.

Niko, kelas XII

Magang - Niko (kecil)Hobi mendesain grafis dengan computer sudah cukup lama dijalaninya. Ia ingin tahu apakah benar desain adalah panggilan karir masa depannya. Ia ingin tahu apakah desain sebagai pekerjaan itu seru, menyenangkan atau sama saja dengan ia lakukan sehari hari dengan hobi designnya. Maka ia pun memilih magang di sebuah perusahaan desain animasi di Surabaya.

Di perusahaan itu ia ditempatkan di bagian design 3D (tiga dimensi). Tadinya ia mengira orang desain cuma terima pesanan untuk mendesain sesuatu, terus langsung dikerjakan. Ternyata tidak demikian. Ia baru tahu bahwa pekerjaan desain diawali dari brainstorming dalam team untuk mengumpulkan ide. Setelah itu baru ditetapkan ide desainnya.

Setelah magang, ia baru bisa membuat keputusan bahwa baginya desain tak lebih sebagai hobby, bukan pilihan karir yang ingin dijalaninya setiap hari.

Kesimpulannya, lewat magang ia jadi tahu panggilannya ternyata bukan ke bidang yang digelutinya sebagai hobby. Memang, hobby tidak selalu harus berujung profesi. Meskipun demikian, hobby kadang bisa mendukung profesi masa depan.

Julius, kelas XII

Magang - Julius (kecil)Sejak semula Julius ingin belajar soal bisnis. Oleh sebab itu ia ingin magang di sebuah perusahaan. Akhirnya ia mendapatkan kesempatan magang di sebuah perusahaan ekspedisi perkapalan selama 5 hari.

Karena perusahaannya besar, maka ia diajak melihat berbagai kegiatan di beberapa departemen secara bergantian, antara lain di bagian marketing, humas, dan lapangan. Di bagian marketing ia antara lain belajar tentang perbedaan antara marketing dan sales.

Di bagian akunting ia melihat ternyata yang dikerjakan di bagian ini tidak sesimpel pelajaran di SMA. Di bagian lapangan, ia diajak ke kapal-kapal besar untuk melihat dari dekat berbagai kerumitan urusan pengiriman barang.

Salah satu manfaat magang bagi Julius adalah latihan tanggungjawab dan komitmen. Karena letak perusahaan ekspedisi itu sangat jauh dari rumahnya, selama magang ia harus bangun lebih pagi dan menempuh jarak lebih jauh.

Julius menyadari bahwa jurusan manajemen bisnis terlalu luas (umum). Setelah magang ia mengambil keputusan untuk mengambil spesialisasi keuangan (keuangan) yang lebih spesifik.

Kegiatan magang bukan hanya mengajarkan tanggungjawab dan manajemen waktu, tapi juga membuka mata Julius untuk membuat keputusan lebih mantap tentang jurusan kuliah yang akan dipilihnya.

Devi, kelas XII

Magang - Devi (kecil)Pada mulanya Devi ingin magang di sebuah perusahaan yang bergerak di dunia fashion sebab bidang ini selalu menarik baginya. Namun karena untuk mendapatkan tempat magang yang diinginkannya tidak mudah, akhirnya ia menjatuhkan pilihan kedua yaitu magang di sebuah hotel.

Ahirnya Devi dapat kesempatan magang di sebuah hotel di Surabaya. Selama magang ia mendapat kesempatan beberapa kali di bagian house keeping dan hanya satu kali di bagian administrasi. Ternyata ia lebih ‘enjoy’ di housekeeping sebab di bagian admin tidak banyak yang bisa ia kerjakan.

Bagi Devi, kegiatan magang yang hanya berlangsung beberapa hari itu sudah cukup baginya untuk memutuskan mengambil jurusan perhotalan saat kuliah. Tentu saja setelah ia membahas dan mempertimbangkannya bersama orang tuanya.

Maria, guru BK SMA St. Hendrikus, Surabaya

Magang - Maria (kecil)Tantangan utama mengadakan program magang bagi siswa SMA ada pada guru. Mendapatkan ijin dari sebuah perusahaan untuk magang tidak mudah. Tidak banyak perusahaan yang membuka diri demi kepentingan pendidikan.

Bagaimana tidak. Ada kalanya mereka harus mendatangi perusahaan satu persatu untuk menyampaikan proposal dan menjelaskan tujuannya. Sebagai contoh, untuk mendapatkan ijin magang di hotel tempat Devi magang, ia mesti datang sendiri dan menyerahkan proposal serta menemui branch managernya.

Memang, tidak semua pelajar punya kesempatan magang untuk mencicipi dunia kerja sebelum mereka memilih jurusan. Namun kalau gurunya bersemangat, pasti kegiatan ini bisa terlaksana.

Banyak pelajar ingin mengambil jurusan kuliner. Tapi ketika diminta bekerja membantu di dapur sebuah restoran baru mereka sadar bahwa ‘dunia dapur’ bukan untuk mereka. Magang bisa menjadi sarana untuk menguji apakah pilihan jurusan didasari passion atau hanya sekedar ikutan teman atau tren.

magang123

Tambahkan komentar

Klik di sini untuk mengirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *

*